BlankOn Uluwatu

BlankOn Uluwatu

Pepatah mengatakan, Tak Kenal Maka Tak Sayang…

Sebelum kita masuk ke materi utama, ada baiknya kita kenalan dulu sama beberapa istilah yang akan sering kita temukan dalam ebook sederhana ini (will see, belum tau juga bakal dibikin ebook apa engga, coz nunggu repo-nya "stabil"). Seperti GNU/Linux, Distro, BlankOn, Linux, Free Software, GNU, Open Source, dan sebagainya.
Bagi yang sudah “sepuh” di GNU/Linux silahkan skip bagian ini. Tapi buat kalian yang “baru kemaren” mengenal GNU/Linux, saya sarankan untuk membacanya dari awal. Dengan harapan, supaya meminimalisir “kebingungan” dimasa yang akan datang.
Hmmm…
Makin ngelantur aja hihihi…
Untuk menyamakan persepsi mengenai materi ini, kita akan sedikit flashback jauh ke era 60-an dimana “Induk” dari sistem operasi yang kita gunakan saat ini yaitu UNIX berjaya.
Disederhanakan dari

  • Wikipedia
  • FSF
  • GNU
  • Linux Foundation

Sejarah Software

Pada awalnya (tahun 1960-an), komputer hanya digunakan untuk kalangan tertentu seperti militer dan pendidikan (universitas). Keduanya Hardware dan Software dijual sepaket (tidak terpisah) beserta source code (kode sumber) sehingga jika ada program yang tidak berjalan, bisa diulik sendiri oleh user.
Wajarlah ya, karena pada masa itu, hanya orang-orang pilihan saja (programmer) yang bisa “ngoprek” komputer. Sistem operasi yang digunakan saat itu adalah UNIX, yang merupakan cikal bakal dari sistem operasi MacOS dan GNU/Linux.

Era Proprietary Software

Dengan semakin meluasnya komputerisasi, sekitar pada tahun 1970-an, software dianggap sebagai kekayaan intelektual dan harus dilindungi hak ciptanya. Jadi, kode sumber (source code) tidak diberikan kepada user. Salah satu perusahaan yang mendukung konsep Proprietary adalah IBM yang memang sedang berjaya pada masanya. Pada tahun inilah secara tidak langsung muncul pembagian dua jenis lisensi yaitu Free software dan Proprietary software.

GNU Manifesto

Sekitar tahun 1980-an, seorang programmer bernama Richard matthew Stallman atau yang biasa disebut RMS menemukan printer yang ia gunakan tidak bisa berjalan dengan baik.
Bingung juga kan ya kalo kode sumbernya aja di ”lindungi” oleh produsen. Mau nunggu support pasti lama, mau ngoprek sendiri juga gak ada bahannya.
Nahloh...
Inilah salah satu hal yang menggagas gerakan mengembalikan software ke “status” asalnya yaitu free software, dengan dilahirkannya GNU Manifesto pada tahun 1983. RMS dibawah naungan FSF (Free Software Foundation) membuat sistem operasi mirip UNIX yang bernama GNU. Semua software yang ada didalam GNU bersifat Free Software.
Untuk melihat isi manifesto secara lengkap bisa melalui link ini sedangkan untuk melihat source code dari GNU bisa dilihat disini.

Lahirnya Linux

Pada tahun 1990-an, seorang mahasiswa bernama Linus Torvalds melahirkan Kernel Linux. Kode sumber Linux berasal dari sistem oeprasi turunan UNIX bernama Minix.
Tepatnya tahun 1991, Om Linus menulis sebuah Innitial Announcement (pernyataan resmi) disebuah milis yang isinya kurang lebih begini,
“Hai pengguna minix, saya lagi ngerjain sistem operasi yang kode sumbernya diambil dari minix nih, cuma hobby aja kok, gak “seserius” GNU bla...bla...bla…
Untuk melihat secara lengkap bisa melalui link ini sedangkan untuk melihat “wujud” Kernel Linux bisa dilihat disini.
Nahloh, dari tadi kok ngomongin source code mulu sih?
Yaiyalah, karena inilah sebenarnya yang diributin, bukan soal boleh enggaknya ngejual software yang kita bikin, tapi lebih ke boleh enggak nya source code itu diakses oleh user.
Disini GNU dan Linux pun “hanya” menyediakan source code nya saja, bukan menyediakan OS yang sudah siap install di komputer.
Bingung kan, kalo iya berarti kalian harus baca bab ini sampai selesai hihihi.

Distro GNU/Linux

Distro atau lengkapnya Distribusi GNU/Linux adalah sebuah sistem operasi yang berisi kode sumber dari GNU, Linux, OfficeSuite, Xorg, Gnome, KDE, dan komponen lainnya yang sudah dikemas dalam sebuah file berformat binnary yang bisa kita install (jalankan) kedalam komputer.
Distro GNU/Linux ini dibuat oleh pihak ketiga, bisa berupa perusahaan, komunitas atau personal. Contohnya ya BlankOn yang diracik oleh anak bangsa.
Untuk penamaan Distro-nya sendiri dikembalikan kepada pengembang.
Jadi yang kita gunakan adalah OS karya pihak ketiga, bukan langsung dari GNU dan Linux nya.

Kenapa Disebut GNU/Linux???

Masih bingung kenapa disebut GNU/Linux?
Kalo iya, coba kita ambil kesimpulan pada bagian ini.
Fakta bahwa GNU lebih dahulu muncul, hal ini pun diakui langsung oleh Linus Torvalds dalam pernyataan resminya.
Sistem operasi yang kita gunakan adalah gabungan dari dua sistem operasi yaitu GNU dan Linux yang sama-sama memiliki fungsi vital. Dan tanda slash (/) menandakan kesamarataan keduanya.
Lagipula coba kita bayangkan jika kita adalah tim GNU yang sudah susah payah ngoding siang malam tapi terkesan “gak dihargai” dengan sengaja “menghilangkan” penyebutan dalam tiap Distro. Hmmm...

Trus, kenapa harus GNU/Linux? Kenapa gak GNU (spasi) Linux aja?

Kalo penulisannya GNU Linux, maka akan ada anggapan bahwa Linux adalah bagian dari GNU.
Contohnya,
Microsoft Office, dimana Office adalah produk dari Microsoft. Atau contoh lainnya, Adobe Photoshop, dimana Photoshop adalah salah satu produk dari Adobe.

Kenapa gak Linux/GNU?

Karena GNU lebih dahulu lahir dibanding Linux, dan secara susunan Alphabet huruf G lebih dahulu dibanding huruf L hihihihi (just my humble opinion)
So, mari kita biasakan untuk selalu menyebut sebuah Distro dengan GNU/Linux. Termasuk GNU/Linux BlankOn. Terlihat lebih “adil” kan jika dibading menyebutnya Distro Linux? Atau kita cukup mengucapkan BlankOn saja, menyesuaikan dengan penamaan yang diberikaan oleh Tim Pengembang-nya.

Open Source Movement

Pada tahun 1998 lahirlah gerakan Open Source yang di prakarsai oleh Andrew. Sebenarnya tidak ada pertentangan antara Free dan Open Source software, hanya saja istilah Free masih terkesan “merugikan” developer. Belum lagi dengan merebaknya kesalah fahaman mengenai arti Free (gratis) dan Free (bebas). Padahal sudah ditegaskan berulang kali bahwa Free disini bukan dalam artian GRATIS tapi dalam arti BEBAS. Oleh karena itu, istilah Open Source rasanya lebih bijak. Karena masih memiliki benang merah, maka untuk lebih menguatkan lagi disebutlah Free & Open Source software yang bisa kita artikan kebebasan dan keterbukaan dimana setiap orang berhak mendapatkan source code software tersebut.
Udah faham donk harusnya?
Oke, kita beralih ke bab selanjutnya...

Apa Itu BlankOn?

“BlankOn itu apa ya...??? Nama tutup kepala asal pulau Jawa kah…???”
Mungkin itu penafsiran kita saat pertama kali mendengan kata BlankOn. BlankOn adalah nama sistem operasi komputer yang dibuat oleh anak bangsa Indonesia. Dibawah naungan Yayasan Penggerak Linux Indonesia.
Kata BlankOn sendiri diambil dari dua kata yaitu Blank dan On yang diambil dari filosofi sebuah keadaan dari kosong menjadi hidup. Namun untuk mempermudah dan menyesuaikan dengan lidah Indonesia, disebutlah BlankOn (pengucapan blangkon). CMIIW

Trus Uluwatu Itu Apa Ya?

Uluwatu adalah nama sebuah daerah di Provinsi Bali. Nama ini diambil sebagai “versi” dari rilis ke 11 BlankOn. Sama kayak Android yang punya versi Marshmellow, Lollipop, Kitkat dan sebagainya.
Udah bisa nyimpulin donk sekarang apa itu BlankOn Uluwatu?
FYI aja, dari awal rilis, BlankOn selalu konsisten menyertakan ciri khas Indonesia. Mulai dari pahlawan, Patimura (BlankOn 7), Daerah (gunung) seperti Tambora (BlankOn X).
Keren ya…
Bersambung...

Komentar (0)

Post a Comment

Dilarang NYEMPAM ya...