Bener Kata Orang Tua, Kalo Rezeki Emang Gak Akan Kemana

Kalo Rezeki Emang Gak Akan Kemana Ya


Bener apa yang dibilang sama Orang Tua kita, yang namanya rezeki, jodoh sama mati itu udah ada yang ngatur. Gak akan ketuker dan gak akan dikurangin atau dilebihin sama sekali.

Tapi untuk artikel kali ini, saya cuma akan fokus ke hal yang namanya rezeki, gak akan ngebahas jodoh dan mati.

Karena baik itu Jodoh ataupun Mati adalah topik pembahasan yang paling horror menurut saya.

Oke, kita langsung aja ke pokok pembahasan, ceileh...
Spoiler > Judul sama isi artikelnya gak nyambung.

Begini Ceritanya


Supaya artikelnya panjang plus bikin pusing yang baca ke-indeks sama Om Google, saya ceritain dulu deh asal muasal kenapa saya bikin postingan ini.

Gini ceritanya...

Berawal dari ke-isenk-an ngecek email di handphone, gak tau kenapa, tiba-tiba kok mau ngebaca email yang masuk. Padahal biasanya mah cuma dimark doank terus ditandain "email sudah dibaca", supaya gak menuh-menuhin notifikasi aja.

Apalagi kalo emailnya datang dari penyedia hosting, palingan nawarin promo yang kadang membuat saya tergoda untuk memotong anggaran rokok & kopi demi "menyelamatkan" Domain & Hosting yang saya impi-impikan.

Setelah dibaca, ternyata ada info Lomba Blog yang bertema Pentingnya Kecepatan Webite Untuk Sukses Online.

Hadiahnya-pun lumayan.

Wah, tema-nya menantang juga nih, pengen nyoba ikutan ah.

Kebetulan emang ini salah satu hosting provider yang udah lama saya kepoin, tapi belum kesampaian buat nyoba sensasi Cloud Hostingnya.

Alasannya satu, gak ada belum ada duit buat belinya.

Maklumlah, untuk seorang pekerja serabutan kayak saya, harga sewa hosting-nya cukup menguras kantong, mending dipakai untuk beli roko & kopi popok & susu formula bayi selama satu bulan.

Selain lebih "aman", tentunya itu lebih rasional, setidaknya itu yang selalu saya pertimbangkan.

Atas alasan "keuangan" itu juga yang menyebabkan saya tetap bertahan menggunakan Hosting Gratisan (Blogspot) dengan sedikit kelebihan dan banyak kekurangannya.

Oke, kita sudahi curcol-nya, balik lagi ke topik pembahasan.

Karena saya butuh informasi mengenai teknis lomba, akhirnya saya mengunjungi situs Dewaweb untuk lebih lengkapnya.

Setelah dibaca, bukannya malah semangat, tapi makin minder. Karena ada salah satu kriteria penilaian yang enggak saya banget, yaitu di makhluk yang bernama Sosial Media.

Ya, saya gak ngerti sama yang namanya sosmed, cuma punya aja, tapi gak pernah "larut" didalamnya. Bahkan ada beberapa yang udah bertahun-tahun enggak saya buka.

Kalaupun saya buka, paling cuma buat share artikel yang saya publish, udah gitu ngilang lagi kayak Bang Toyyib.

Sebenarnya bukan cuma soal "Sosmed" nya aja, tapi juga Networking didalamnya.

Pertanyaan sederhananya gini,

Berapa persen sih orang yang benar-benar kita kenal dan sering bertegur sapa tanpa ada maksud tersembunyi didalamnya?

Kalo buat saya, mendekati 10% aja itu udah aneh bin ajaib.

Untuk point ini, bisa dipastikan saya kalah telak.

Alhasil, saya-pun mengurungkan niat untuk mengikuti lomba tersebut.

The Power Of Kepepet


Setelah mendekati batas waktu penutupan lomba, lagi-lagi, email yang dikirim Dewaweb membuat saya berubah fikiran.

Ada sepotong kalimat yang membuat saya berfikir ulang.

Masa iya harus kalah sebelum berperang?

Ini sih gak jauh beda kayak ngerasa ditolak tanpa pernah mengutarakan perasaan.

Kan aneh.

Nyoba aja deh bikin seadanya, udah mepet juga waktunya.

Berbekal materi alakadarnya, mulai dari gaya bahasa yang ngacapruk, terlalu jauh pembahasan dengan tema yang ditentukan, cover postingan yang ngambil dari situs penyedia gambar gratis, sampai artikel yang belum sepenuhnya selesai, segitu juga udah uyuhan, soalnya cuma dibuat selama 1x24 jam.

Postingan itupun kemudian saya share di Facebook & Twitter.

Berbekal kata-kata "Ah, segini juga udah uyuhan" yang membuat kadar kepedeean saya menjadi 20% dan tanpa banyak berharap tentunya, saya submit juga link artikelnya ke panitia.

Berhubung blognya juga lagi dalam proses maintenance, dan lagi sibuk migrasiin konten juga, akhirnya lomba tersebut "terlupakan".

Pelajaran Penting


Ada beberapa pelajaran berharga yang saya ambil dari pengalaman pertama mengikuti lomba blog.

Oke, point ini harus saya catat baik-baik, yaitu;

Pentingnya Email Marketing


Awalnya dengan pesimis saya berfikir, buat apa sih segala ngebuat kolom subscribe ke email?

Kayak bakal ada yang mau nge-subscribe aja.

Lagian belum ngerti juga gimana caranya maksimalin subscriber, maklumlah selama ini blog yang saya kelola cuma buat numpahin hobby menari-nari diatas keyboard. Bukan blog/website yang dipakai jualan jasa atau barang.

Jadi point tersebut sangaja saya abaikan.

Tapi ternyata semua itu salah besar.

Faktanya, saya mendapat informasi lomba blog dan memutuskan untuk mensubmit artikel-pun berkat langganan email dari Dewaweb.

Ini kesalahan pertama saya yang harus secepatnya diperbaiki.

Pentingnya Networking


Point kedua yang paling penting (selain konten) jika kita ingin mengikuti lomba adalah networking atau saya lebih suka menyebutnya tim hore.

Maksudnya, tim yang berisi orang-orang yang sengaja untuk saling support (minmal dengan like & komentar basa-basi) jika ada anggotanya yang mengikuti lomba. Meskipun tidak terlihat "natural" tapi suka gak suka cara ini ampuh untuk mendongkrak penilaian.

Tapi masalahnya, gak semua orang suka dengan cara seperti itu, dan agak sulit juga mencari dan menjadi bagian dari tim hore tersebut. Kuncinya ya harus sering-sering blogwalking (meninggalkan komentar diblog lain) dan bergabung dengan komunitas.

Eh, tapi ternyata ada cara natural yang bisa dilakukan, tentunya dengan melibatkan subscriber blog kita.

Nahloh, akhirnya emang bener subscriber itu penting banget.

Daripada semakin ngelantur, mending saya cukupin aja deh menari diatas keyboardnya.

Komentar (0)

Posting Komentar

Dilarang NYEPAM ya...
Komentar yang nyertain link aktif gak akan di publish...