Ode untuk Si Merah di Wajah: Puisi Jerawat yang Relate Banget

Hai kamu, yang lagi baca ini sambil sentuh-sentuh tonjolan kecil di dagu. I feel you. Jerawat itu kayak tamu tak diundang yang paling setia. Datang tepat di momen penting. Buat lo yang lagi berjuang, mari kita apsiasi mereka dengan... puisi. Ya, bener. Puisi tentang jerawat. Siap-siap ketawa dan ngerasa tersindir.

BAGIAN I: KEDATANGAN SANG TAMU SPESIAL

Di malam yang sunyi, sebelum psentasi besok,
Kau datang tanpa suara, tanpa kode morse atau kentut.
Oh, Jerawat!
Bukan di pipi, atau di dahi yang tersembunyi oleh poni,
Tapi tepat di ujung hidung, bagai lampu mercusuar.
"Lihat saya!" kau teriak, dengan warna merahmu yang menyala.
Aku pun berbisik: "Dasar, kurang ajar."

Gak lucu? Tapi inilah kenyataan. Jerawat punya radar internal yang canggih. Mereka tahu kapan kita ada kencan pertama, wawancara kerja, atau sesi foto. Mereka adalah panitia khusus pengacau kepercayaan diri. Dan mereka bekerja dengan sangat, sangat baik.

BAGIAN II: MASA HIDUP YANG PENUH WARNA

Hari Pertama:
Kau hanya benjol kecil, halus, penuh misteri.
"Apa ini? Cuma bekas digigit nyamuk kali?" bisikku naif.
Hari Kedua:
Merah merona! Berkubah tinggi! Punya ibukota!
Kau sekarang punya nama. "Si Gundul Merah di Dagu".
Aku menatapmu di cermin, bertanya:
"Kenapa? Apa dosaku? Apakah karena makan tempe goreng tiga piring?"
Hari Ketiga:
Puncak kejayaan! Kau berbinar, berminyak, siap tempur.
Sentuh sedikit saja, dunia terasa berguncang.
Kau seperti gunung berapi mini yang sabar menanti erupsi.
Tapi ingat, erupsimu adalah pengkhianatan terbesar bagi wajahku.

Fase perkembangan jerawat itu lebih cepat dari pertumbuhan startup tech. Dari MVP (Minimum Viable Pimple) langsung jadi Unicorn (dengan satu tanduk putih di tengahnya). Kita bisa menghabiskan berjam-jam di depan cermin, menganalisis, merencanakan serangan, hanya untuk akhirnya menyerah dan menutupinya dengan concealer yang ternyata cuma bikin seperti ada "topi kecil" di atasnya.

BAGIAN III: DIALOG BATHIN YANG KACAU

Jangan dipencet, kata mereka.
Ahli kulit bersumpah dengan janji itu.
Tapi tangan ini, memiliki pikiran sendiri.
Seperti magnet yang ditarik ke medan benjolan.
"Cuma sedikit tekanan," goda suara di kepala.
"Mungkin dia ingin keluar, ingin bebas!"
Dan lalu... TRAGEDI.
Bukan kedamaian yang datang, tapi perang.
Merah yang lebih luas, dan rasa menyesal yang dalam.
"Kenapa aku tidak kuat?!" tangis jiwa yang kalah.
Jerawat pun tertawa: "Lagian lo pikir gue mudah dikalahkan?"

Peperangan melawan jerawat adalah peperangan melawan diri sendiri. Perang antara logika dan keputusasaan, antara kesabaran dan keinginan instan untuk "menyelesaikan masalah". Spoiler alert: jerawat selalu menang di ronde ini.

BAGIAN IV: MITOS DAN LEGENDA URBAN

"Jangan makan cokelat!" seru seorang nenek.
"Itu karena kurang cuci muka!" tukas seorang teman.
"Coba pakai pasta gigi," bisik internet di malam hari.
Aku pun mencoba segalanya.
Dari lidah buaya sampai doa menjelang maghrib.
Jerawat tetap bertahan, bagai pahlawan yang tak mau menyerah.
Mungkin dia haus perhatian. Mungkin dia hanya tersesat.
Atau mungkin, ini semua karena takdir.
Takdir untuk bertemu di ujung hidung, di pesta wawancara kerja.

Setiap orang jadi ahli kulit dadakan ketika kita berjerawat. Nasihat berdatangan, dari yang ilmiah sampai yang mistis. "Cobain es batu dibalut kain!" "Gue sih cocoknya pakai air bekas cucian beras!" Dan kita, dengan putus asa, mencoba semuanya. Hasilnya? Kadang sembuh, seringnya sih... jerawatnya makin betah dan sewa kontrakan lama.

BAGIAN V: PERPISAHAN YANG PASTI (TAPI SELALU DIKENANG)

Lalu, suatu pagi, tanpa pemberitahuan.
Kau mengempis. Merahmu memudar.
Tinggalkan kenangan berupa noda kecoklatan.
"Selamat tinggal," katamu mungkin.
Aku melihat bekasmu di cermin, campur rasa.
Sedih? Lega? Atau rindu?
Karena aku tahu, ini bukan akhir.
Kau hanya pergi berlibur.
Mengumpulkan pasukan, menyusun strategi baru.
Untuk datang kembali, di tempat yang lebih mengejutkan.
Mungkin di alis. Atau di telinga.
Oh, kejutan yang selalu dinantikan (bohong).

Kepergian jerawat itu pahit getir. Dia pergi, tapi meninggalkan bekas (secara harfiah). Bekas itu akan diingat selama berminggu-minggu, sebagai pengingat bahwa di sana, pernah berdiri sebuah kerajaan jerawat yang megah. Dan kita akan cerita ke teman, "Nih liat, dulu sini pernah ada jerawat segede itu!" dengan nada seperti sedang bercerita tentang pertempuran heroik.

KESIMPULAN: PUISI UNTUK SAHABAT SEBENCI

Jadi, untukmu, Jerawat.
Si bintik pemberontak, si merah penyebar drama.
Terima kasih sudah mengajariku tentang kesabaran.
Tentang cara menatap mata orang ketika bicara,
agar mereka tidak melihat hidungku yang sedang dipenuhi mercusuar.
Terima kasih sudah jadi alasan beli skincare mahal,
yang akhirnya hanya jadi pajangan di lemari.
Kau adalah pengingat, bahwa kulit ini hidup.
Bernafas, berubah, dan terkadang... memberontak.
Sampai kita bertemu lagi, di malam sebelum acara penting.
Aku akan siap. Dengan concealer, kesabaran, dan doa.
Tapi tolong, deh, jangan di hidung lagi. Capek, aku.


Catatan Penting untuk Pembaca Setia Blog Ini:

Puisi di atas ditulis dengan darah, air mata, dan minyak wajah berlebih. Buat kamu yang lagi struggle sama jerawat, ingat: kamu gak sendirian. Semua orang pernah. Bahkan model-model di iklan itu pun punya photoshop dan dermatologist pribadi.

Disclaimer blog: Ini puisi hiburan, bukan saran medis. Untuk jerawat bandel atau yang bikin sakit fisik, lebih baik konsultasi ke dokter kulit ya! Jangan cuma dikasih puisi, nggak mempan.

Baca juga artikel kami lainnya: "Skincare Sederhana buat yang Mager" dan "Mitos vs Fakta: Benarkah Micellar Water bisa Anget-in Hati yang Dingin?"

Jangan lupa share pengalaman jerawat paling dramatis kamu di kolom komentar! Let's heal together (sambil ketawa-ketawa).

Postingan terkait:

Belum ada tanggapan untuk "Ode untuk Si Merah di Wajah: Puisi Jerawat yang Relate Banget"

Posting Komentar

Semua komentar yang masuk saya moderasi, hal ini untuk menghindari spam dan informasi yang tidak berkaitan dengan topik pembahasan.
Silahkan berkomentar dengan bijak.