Ode untuk Si Bintil Pemberontak: Sebuah Puisi tentang "Wasir" yang Tak Biasa

Sebuah curhat kolontal dalam rima, untukmu yang pernah merasakan 'tahta' di singgasananya sendiri.


Bagian I: Awal Mula yang Tak Dirindukan

Di suatu senja, usai pertempuran sengit,
Di medan laga bernama Warung Padang.
Dengan nasi, rendang, dan sambal terlaknit,
Aku menyantap, penuh kebanggaan.
Lalu datanglah, sebuah bisikan halus,
Dari gerbang selatan, yang mulia itu.
"Hei, ada tamu, yang tak diundang plus,
Dia membengkak, dan ingin bertapa di situ."
Aku abaikan, "Ah, cuma angin lalu,"
Teruskan saja, hidup yang penuh warna.
Sampai suatu hari, di jamban yang kelabu,
Aku tersadar: "Ini bukan sembarang wasir, ini bencana!"

Bagian II: Penderitaan dalam Diam

Duduk menjadi ujian, sebuah siksaan baru,
Bagai duduk di atas bara, atau ranjau darat.
Berpindah-pindah pantat, mencari sudut yang rindu,
Pada kelembutan, yang telah lama terlumat.
O, bantal-bantal malang, kau jadi saksi bisu,
Dari tarian "angkat pantat kiri, geser kanan".
Meeting panjang, oh Tuhan, itu benar-benar siksamu,
Sementara di bawah, sang bintil bertahan berkelanan.
Di lift, kupegang pinggang, pura-pura cool,
Padahal dalam hati, berteriak lirih nan pilu.
"Turun kau, wahai bintil! Jangan kau main genit!"
Dia cuma nyengir, "Aku bagian dari kamu, sayang, aku takkan pergi."

Joke Intermezzo: Kalau punya wasir, kita jadi paham betul arti kata "duduk perkara". Dan perkara utamanya adalah duduk itu sendiri!

Bagian III: Ekspedisi Mencari Obat

Maka berkelanalah, ke apotek terdekat,
Dengan muka tersamar, penuh penyesalan.
"Saya mau yang untuk... eh... pembuluh darah," kataku tepat.
Si bapak apoteker, berkacamata, penuh pengertian.
"Obat oles, obat minum, atau supositoria?"
Tanyanya lugas, seakan menyebut kopi susu.
Aku tertegun, "Yang... yang paling joss, pak," impria.
Diberinya sekantung, penuh harapan dan ilmu.
Ritual pun dimulai, di balik pintu terkunci,
Seperti misi rahasia, operasi khusus.
"Ayo kawan, masuk kau, jangan membuatku merinci,"
Berharap esok, si bintil jadi lembek dan lunak, tanpa perlawanan yang menusuk.

Bagian IV: Filsafat & Penerimaan Diri

Di puncak penderitaan, terbitlah pencerahan,
Wasir adalah guru, sang pengingat yang tegas.
Tentang pola makan, dan hidup tak seimbangan,
Dan bahayanya nongkrong di jamban baca koran, sampai berjam-jam lamanya, tanpa begas.
Dia adalah pemberontak, dari tubuh sendiri,
Yang mogok kerja, karena beban berlebihan.
"Cintai ususmu, sayangi pembulu darahmu," bisiknya ngeri,
"Atau kuberikan kau pelajaran, yang takkan kau lupakan sepanjang zaman."
O, ambeien yang mulia, sungguh tak kusangka,
Kau ajari aku arti sabar, dan syukur yang dalam.
Syukur masih bisa merasakan sakit yang begitu,
Karena artinya, aku masih hidup, dan ini bukan alam baka.

Renungan: Hidup itu seperti wasir. Kadang naik, kadang turun. Tugas kita adalah berusaha agar yang naik itu semangat, dan yang turun itu... ya, si bintilnya.

Bagian V: Senandung Perpisahan (Yang Diharapkan)

Maka hari ini, kuberikan penghormatan,
Untuk sang bintil, si merah yang pemberani.
Tapi tolonglah, dengarkan permohonanku yang santun,
Sudah saatnya kau pergi, undur diri, tuk selamanya.
Aku janji, akan kubawa tubuh ini,
Pada serat, air putih, dan olahraga yang teratur.
Aku akan tinggalkan, duduk berlama-lamadi jamban sambil main "Mobile Legend",
Dan menghargai setiap "panggilan alam", dengan sigap dan sepatutnya.
Pergilah kawan, dengan damai dan ikhlas,
Tinggalkan singgasanamu, yang dulu kau bangga.
Biarkan kenanganmu, jadi pelajaran yang nyata,
Tentang hidup sehat, yang mahal harganya.


Epilog: Tips Ringan (dari Korban yang Sudah Tau Rasa)

  • Air & Serat itu pasangan sejati, lebih serasi dari Rhoma dan Rita. Prioritaskan!
  • Jamban itu bukan ruang baca, apalagi ruang meeting online. Effisien saja.
  • Kalau sudah terasa, jangan malu ke dokter. Mereka sudah lihat segalanya, bintilmu bukan yang terunik.
  • Duduk di bantal donat itu keren, kok. Anggap saja sedang jadi raja dengan cincin empuknya.
  • Terakhir, tertawalah! Karena stres hanya akan membuat segalanya... ehm... lebih "menekan".

Demikianlah puisi panjang ini, sebuah mahakarya dari pengalaman yang "sangat mendalam". Semoga kita semua dijauhkan dari pemberontakan di daerah kekuasaan selatan. Hidup sehat, dan salam tidak sakit saat duduk!

Penulis: Seorang Pejuang di Balik Layar (dan di Atas Bantal Donat)
Kategori: Kesehatan, Life Experience, Penyakit yang Dapat Dicegah
Tag: #Wasir #Ambeien #HidupSehat #PuisiNyentrik #CurhatSehat #HumorKesehatan

Postingan terkait:

Belum ada tanggapan untuk "Ode untuk Si Bintil Pemberontak: Sebuah Puisi tentang "Wasir" yang Tak Biasa"

Posting Komentar

Semua komentar yang masuk saya moderasi, hal ini untuk menghindari spam dan informasi yang tidak berkaitan dengan topik pembahasan.
Silahkan berkomentar dengan bijak.