Ode untuk Si Putih yang Bandel: Sebuah Epik Dikepala

Hai kamu, yang sedang bercermin dengan curiga,
Menatap bahu hitam jersey yang tiba-tiba memutih bagai salju,
Aku tau perasaanmu. Aku datang bukan sebagai ahli,
Tapi sebagai penyair yang juga pernah berperang.
Ini adalah puisi untuk mereka, si serpihan pengganggu,
Si Ketombe.

Bagian I: Kelahiran Sang Putih

Dari bumi kulit kepala yang katanya kering atau terlalu basah,
Mereka muncul. Bukan pahlawan, bukan pula penjahat sejati.
Hanya sel-sel tua yang pensiun dini dan ingin pamer.
"Lihat aku!" seru mereka, melompat bebas dari akar.
Mendarat lembut di atas warna gelap,
Menciptakan kontras yang memalukan.
Seperti lada di atas nasi goreng, tapi salah tempat.
Mereka adalah konfetti yang tidak diundang di pesta rambutmu.
Badai salju lokal di zona tropis bernama kepala.

"Apakah ini salju musim dingin di Bali?
Atau taburan keju parut di kepala yang keliru?
Bukan, sayangku. Ini demokrasi.
Sel kulitmu sedang unjuk rasa,
Dan podiumnya adalah bahumu."

Bagian II: Kehidupan Sehari-hari Si Bandel

Mereka senang bersembunyi di balik helai hitam,
Lalu muncul saat kencan pertama, meeting penting, atau foto formal.
Timing-nya selalu sempurna, layaknya komedian stand-up yang paham ironi.
Kamu menggaruk dengan lembut, mereka balas dendam dengan hujan.
Kamu pakai sampo biasa, mereka tertawa, "Cuma ini?"
Kamu ganti sampo khusus, mereka berpikir, "Ah, akhirnya kita dianggap."

Mereka adalah tamu yang overstay.
Tidak bayar kos, tidak bantu cuci piring,
Hanya tinggal, beranak pinak, dan pindah ke bahu.
Rumahku adalah bahumu, itu moto mereka.

Bagian III: Monolog Sang Kulit Kepala

"Aku hanya ingin segar. Tapi dunia menuduhku terlalu kering, atau terlalu berminyak.
Aku ditekan stres, dihujani chemical, diguncang cuaca.
Lalu ketika aku melepaskan yang lama untuk tumbuh yang baru, Semua orang protes.
Mereka menyebutnya 'ketombe'. Aku menyebutnya 'proses alam yang dihakimi'."

Bagian IV: Perang dan Gencatan Senjata (alias: Ritual Keramas)

Ini adalah ritual mingguan, atau bahkan harian.
Berdiri di bawah air yang mengalir, berharap bisa mengalirkan semua masalah.
Botol ajaib berwarna biru dengan janji "anti ketombe sampai 100%".
Kita pijat, kita bilas, kita ulangi.
Kita kira kita sudah menang.
Rambut mengering, hati berbunga.
Lalu…
Di sana!
Sebuah titik putih kecil bersinar di antara gelap.
Seperti bintang pertama di langit malam, tapi bikin kesal.
Pertanda bahwa perdamaian itu rapuh.

"Mungkin perlu sampo yang lebih mahal," bisik hati.
"Mungkin ini pemberontakan dari dalam," curiga pikiran.
Padahal, mungkin kulit kepalanya hanya butuh dikatakan, "Hey, kamu baik-baik saja."

Bagian V: Penerimaan dan Lelucon (Karena Kalau Nggak Ketawa, Nangis Dong)

Jadi, mari kita anggap mereka sebagai fitur, bukan bug.
Sebagai penanda waktu.
Serpihan-salju mini yang mengingatkan: "Hidup ini terus berganti, seperti sel kulitmu."
Sebagai aksesori gratis.
Tone-on-tone? Nanti dulu. Kontras adalah seni. Salju di atas gunung baju hitam.
Sebagai alat ukur stres.
Semakin banyak? Maybe it's time for a break. Santai, bro.

"Ketombe adalah cara alam berkata:
'Kepalamamu punya musim sendiri, dan musim gugurnya sangat… personal.'
Atau mungkin cara iklan sampo agar kita terus membeli.
Kita tak pernah benar-benar tahu."

Bagian VI: Epilog untuk Si Putih di Bahu Hitam

Untukmu, si putih yang bandel,
Aku tak akan mendramatisirmu lagi.
Kamu bukan kutukan, bukan aib.
Kamu hanya bagian dari siklus, yang kebetulan… sangat terlihat.
Jadi, hari ini, aku akan keramas dengan baik.
Makan dengan sehat. Kurangi garukan penuh amarah.
Dan jika besok kamu masih muncul di bahu hitamku,
Aku akan meniupmu dengan senyuman,
Sambil bergumam,
"Dasar bandel. Tapi, kamu bagian dari ceritaku."

Dan untuk kamu yang membaca ini sambil side-eye ke bahu sendiri:
Santai. Seluruh isi planet ini sedang mengelupas dengan caranya masing-masing.
Kamu tidak sendiri. Bahu-bahu di seluruh penjuru dunia sedang menjadi tuan rumah bagi mikro-salju pribadi mereka.
Itu tanda kulitmu hidup, bernafas, dan memperbarui diri. Cuma… agak terlalu bersemangat memberitahunya.


Catatan Kaki Blog: Puisi ini ditulis dengan penuh (garukan) cinta. Jika ketombe Anda sangat parah dan gatal, mungkin memang perlu konsultasi ke dokter, bukan puisi. Tapi untuk yang sekadar butuh tertawa menghadapi serpihan kecil di kehidupan, semoga puisi gak jelas ini membantu. Ingat, iklan sampo yang dramatis itu cuma iklan. Kadang, yang kita butuhkan cuma sedikit penerimaan dan lelucon. Dan mungkin, sampo yang beneran cocok. Coba yang zinc pyrithione, kali aja jodoh. #PuisiKetombe #HidupBerketombe #SantaiAja

Postingan terkait:

Belum ada tanggapan untuk "Ode untuk Si Putih yang Bandel: Sebuah Epik Dikepala"

Posting Komentar

Semua komentar yang masuk saya moderasi, hal ini untuk menghindari spam dan informasi yang tidak berkaitan dengan topik pembahasan.
Silahkan berkomentar dengan bijak.