Ode untuk Sang Bisul: Cerita Benjolan Merah yang Sok Kenal

Sebuah puisi panjang untuk teman tak diundang yang gemar mampir di tubuh kita. Baca dengan rasa syukur... bahwa ini cuma puisi, bukan kenyataan di pantatmu.


BAGIAN I: KEDATANGAN TANPA PEMBERITAHUAN

Kau datang tak diundang,
Seperti spam email yang tiba-tiba masuk inbox.
Awalnya hanya titik merah kecil,
Seperti tanda baca yang salah tempat di kulitku.
"Ah, mungkin cuma gigitan nyamuk," kataku naif,
Sebelum kau tunjukkan sifat aslimu yang sok penting.

Dalam diam kau membangun markas,
Seperti kontraktor liar di pori-pori.
Mengumpulkan pasukan sel darah putih,
Dan lemak, dan nanah, jadi satu kerajaan.
Kau tumbuh membesar, merah menyala,
Seperti lampu darurat yang tiba-tiba menyala di paha.

Bisul itu seperti pacar yang terlalu posesif. Datang tanpa diminta, bikin panas, sensitif kalau disentuh, dan susah banget buat diusir. Bedanya, kalau bisul pecah, kita lega. Kalau pacar... yah, cerita lain.

BAGIAN II: FASE "OH-TIDAK-INDAHNYA"

Sekarang kau sudah dewasa,
Sebuah gunung berapi mini di epidermis.
Setiap sentuhan adalah siksaan,
Memakai celana jadi negosiasi tingkat tinggi.
Tidur telentang? Tidak mungkin.
Tengkurap? Jangan mimpi.
Kau memaksaku tidur miring seperti simpanse yang lagi PTSD.

Kemerahanmu adalah tandingan matahari,
Kehangatanmu lebih dari secangkir kopi pagi.
Denyutmu sendiri,
Thump... thump... thump...
Seperti DJ yang ngebeat di bokong,
Mixing track nanah dan radang tanpa izin.

Berteman dengan bisul itu seperti punya teman yang toxic. Dia bilang "hei, aku cuma mau yang terbaik buatmu" sambil ngerusak hari-harimu. Cuma bedanya, bisul nggak pernah minta minjem uang.

BAGIAN III: OBSESI MANUSIA & MITOS URBAN

Lalu datanglah nasihat dari segala penjuru,
"Kompres air hangat!" seru Ibu dengan yakin.
"Taro daun sirih!" bisik teman kantor.
"Pake potongan bawang merah!" tukang sayur ikut nimbrung.
Tubuhku jadi laboratorium rakyat,
Eksperimen herbal dan harapan.

Ada yang bilang itu tanda banyak makan telur,
Padahal aku lebih banyak makan mie instan.

Dan godaan untuk memencet... oh, godaan itu!
Seperti tombol merah yang bertuliskan "JANGAN DITEKAN",
Semakin dilarang, semakin ingin.
Tapi kita tahu konsekuensinya,
Seperti membalas chat mantan di jam 2 pagi,
Berakhir dengan penyesalan dan kekacauan yang lebih dalam.

BAGIAN IV: PUNCAK DRAMA (LITERALLY)

Hari-H itu tiba,
Puncak dari semua ketegangan.
Kau bergetar, menegang,
Seperti suspense di film thriller.
Lalu...
(Maaf untuk deskripsi grafis ini, Google Adsense, ini demi seni!)

Sebuah ledakan kecil,
Bukan kembang api, tapi kembang-nanah.
Relief yang datang begitu saja,
Seperti akhir dari episode serial Netflix yang ngegantung.
Dan kepergianmu meninggalkan kenangan,
Sebuah kawah, sebuah cerita,
Dan bekas luka yang mungkin akan pudar.

Bisul yang sudah pecah itu seperti mantan yang sudah move on. Kita lega dia pergi, tapi kadang masih kepo sama bekas kehadirannya. Dan kita berharap dia nggak balik lagi dalam bentuk bisul baru di tempat lain.

BAGIAN V: REFLEKSI FILOSOFIS (SEDIKIT)

Dari semua ini, kita belajar,
Bahwa tubuh ini punya cara sendiri untuk protes.
Mungkin karena kurang air, kurang sabun,
Atau terlalu banyak stres dan gorengan.
Bisul adalah pengingat berbentuk benjolan,
Bahwa kita harus lebih baik pada diri sendiri.

Dia adalah cerita yang nggak banget buat caption Instagram,
Tapi selalu menarik buat obrolan.
"Eh, gue pernah punya bisul segede ini lho!"
*sambil memperagakan dengan jari*
Lebih efektif pecahkan kebekuan daripada joke politik.

PENUTUP: SELAMAT TINGGAL (SEMOGA UNTUK SELAMANYA)

Jadi untukmu, Sang Bisul,
Meski kehadiranmu menyebalkan,
Kau mengajarkan kesabaran.
Dan pelajaran untuk rajin ganti sprei.
Dan untuk tidak terlalu sering duduk diam.
Dan mungkin makan lebih banyak serat.

Pergilah, dan jangan kembali.
Atau kau akan kukenang dalam puisi lain,
Yang judulnya lebih galak,
Dan isinya lebih banyak sumpah serapah.

Tamat. Sekarang coba cek lagi, apa di tubuhmu ada tamu tak diundang? Cuma checking saja. Jangan paranoid.


Catatan Blog: Puisi ini ditulis dengan rasa syukur yang mendalam bahwa penulis saat ini tidak sedang berurusan dengan bisul. Semua penggambaran adalah metafora (tapi based on true experience). Jika Anda sedang mengalami bisul, sabar ya! Jangan dipencet! Dan ini bukan nasihat medis, kalau serius, lebih baik ke dokter daripada baca puisi.

Postingan terkait:

Belum ada tanggapan untuk "Ode untuk Sang Bisul: Cerita Benjolan Merah yang Sok Kenal"

Posting Komentar

Semua komentar yang masuk saya moderasi, hal ini untuk menghindari spam dan informasi yang tidak berkaitan dengan topik pembahasan.
Silahkan berkomentar dengan bijak.