Rorombeheun, Untuk Semua Kaki Yang Telah Melangkah Lebih Jauh Dari Keluhannya.

Sebuah puisi mendalam tentang rorombeheun (kaki pecah-pecah), merenungi perjalanan, pengorbanan, dan kekuatan yang tersembunyi di balik kulit yang terluka

Untuk semua kaki yang telah melangkah lebih jauh dari keluhannya.

I. Prasasti Pada Telapak

Bukan peta harta karun yang terlukis di sini,
melainkan peta perjalanan yang sungguh ditempuh.
Setiap garis, retakan halus yang memutih,
adalah sungai kering dari keringat yang tumpah.
Setiap pecahan, lempengan tanah yang merekah
di musim kemarau panjang penderitaan.
Kulihat garis nasib bukan di genggaman tangan,
tapi di telapak ini, di tanah subur yang terluka.

Di sini, jejak-jejak itu membeku menjadi naskah.
Jejak batu kerikil tajam di jalan setapak menuju sawah,
jejak lantai panas pabrik yang menahan waktu,
jejak aspal meleleh di hari terik menjemput ibu,
jejak lantai kamar mandi yang basah oleh doa-doa pagi.
Rorombeheun, kamu adalah prasasti yang tak dibaca,
prasasti tentang ketahanan, yang diukir oleh perih,
dan ditulis dengan tinta yang namanya: melanjutkan.

II. Bahasa yang Bisu

Kaki ini bicara dengan bahasa yang bisu.
Saat tubuh tertidur lelah, dialah yang masih bergetar,
mengingatkan pada beban yang baru saja dilepaskan.
Saat tertawa mengembang di ruang keluarga,
dialah yang diam-diam merintih, mengingat beban tadi.
Rorombeheun adalah bahasa isyarat dari bumi,
isyarat bahwa kita terlalu sering berdiri,
terlalu jauh berjalan, dan terlalu keras berpijak
pada realita yang keras bagai batu kali.

Dia seperti mozaik yang tak sempurna,
kepingan-kepingan kisah yang tak pernah utuh diceritakan.
Setiap keping itu berkata: "Aku pernah kedinginan di lantai,"
"Aku pernah terbakar oleh terik tengah hari,"
"Aku pernah terendam air hujan dan lumpur."
Kumpulan suara bisu itu akhirnya membentuk lanskap,
lanskap perjuangan yang kasar bila disentuh,
namun hangat karena darah yang mengalir di bawahnya.

III. Tanah Air yang Berjalan

Kaki ini adalah tanah air yang berjalan.
Di permukaannya yang pecah, tersimpan debu dari jalan kampung,
butir pasir dari pantai tempat hati dilabuhkan,
sisa tanah liat dari sawah nenek moyang.
Rorombeheun adalah batas pertemuan antara tubuh dan bumi,
tempat negosiasi antara keinginan melangkah dan gravitasi yang menarik.
Di sanalah identitas kita yang sesungguhnya tertanam:
manusia yang berasal dari tanah, dan kepada tanah suatu saat kembali,
namun kini, dengan kaki yang sama, menolak untuk terhisap.

Dia membawa ingatan tentang hujan pertama,
tentang rumput yang dingin di pagi buta,
tentang ubin yang licin setelah dipel.
Dia adalah arsiparis yang setia,
mencatat setiap kontur bumi yang pernah diinjak.
Maka, merawatnya dengan lotion dan minyak,
adalah ritual mengingat,
ritual mensyukuri tanah air kecil yang tak pernah berhenti mengembara.

IV. Bunga di Musim Kemarau

Mereka bilang itu luka, kekurangan, aib yang harus disembunyikan.
Tapi aku memilih memandangmu sebagai bunga.
Bunga yang mekar di musim kemarau panjang bernama kehidupan.
Setiap retakan adalah kelopak yang merekah secara ganjil,
menantang definisi kecantikan yang sempit dan mulus.
Keindahan yang lahir bukan dari kemudahan,
tetapi dari kemampuan tetap tumbuh di tengah gersangnya cobaan.

Bunga di beton, bunga di tengah terik, bunga di bawah tekanan.
Warnanya mungkin bukan merah atau kuning yang memikat,
tetapi warna kulit yang bertahan, warna kesabaran, warna ketekunan.
Rorombeheun, kamu adalah bukti bahwa kehidupan terus mencari celah,
bahkan dari permukaan yang paling keras dan paling mudah pecah.
Kamu adalah flora yang tegas, yang berkata,
"Di sini aku berdiri. Di sini aku tumbuh. Di sini aku bertahan."

V. Akar yang Terlihat

Jika tubuh adalah pohon, maka kakilah akarnya.
Tapi sementara akar pohon bersembunyi di dalam gelap tanah,
akar kita justru terpapar. Terlihat. Terbuka.
Rorombeheun adalah akar yang terlihat,
yang tak takut menunjukkan betapa dalam ia telah menembus,
betapa keras ia telah berusaha mencengkeram bumi
agar pohon kehidupannya tidak tumbang.

Di setiap pecahannya, tersimpan sejarah pencarian air,
sejarah mencari nutrisi di tanah yang tandus.
Akar yang terlihat ini adalah kebanggaan, bukan cela.
Dia menunjukkan bahwa kita bukanlah tanaman dalam pot,
yang akarnya rapi dan terbatas.
Kita adalah pohon beringin yang akarnya menjalar di mana-mana,
kuat, kompleks, dan kadang… pecah-pecah.
Itulah harga yang harus dibayar untuk menjangkau dunia.

VI. Kriptografi Keberanian

Kulit yang halus mungkin menceritakan tentang perlindungan,
tetapi kulit yang pecah menceritakan tentang pertempuran.
Rorombeheun adalah kriptografi, sandi-sandi keberanian.
Hanya mereka yang memiliki kunci pengalaman yang sama,
yang bisa memecahkan kodenya, dan memahami isyaratnya.
Seorang ibu tahu, saat melihat kaki anaknya yang mulai mengering,
bahwa perjalanan hidupnya telah dimulai.
Seorang kakek tahu, saat meraba pecahan-pecahan di kakinya,
bahwa itulah total dari semua langkahnya yang bermakna.

Sandi itu berbunyi: "Aku telah melalui itu."
"Aku tidak mundur."
"Aku tetap berdiri."
Dalam bahasa yang lebih sederhana: "Aku hidup."
Dan hidup yang sejati selalu meninggalkan bekas,
selalu mengukir memorinya pada daging dan tulang,
seperti sungai mengukir ngarai pada batu yang keras.

VII. Lembaran Akhir: Perjalanan Pulang

Maka, saat nanti waktu memanggil untuk beristirahat panjang,
dan kaki ini akhirnya berhenti melangkah,
rorombeheun akan menjadi catatan terakhir yang paling jujur.
Buku harian yang tak terbantahkan tentang perjalanan.
Dan saat kita meninjak tanah yang terakhir kalinya,
tanah itu akan mengenali kita.
Kontur pecahan-pecahan di telapak kaki
akan bersua sempurna dengan kontur bumi,
seperti kunci bertemu dengan anak kuncinya.

Dan dalam pertemuan itu, tak akan ada lagi rasa sakit.
Hanya pengakuan. Pengakuan bumi yang berkata,
"Kamu telah berjalan jauh. Kaki pecah-pecahmu adalah buktinya.
Sekarang, beristirahatlah. Tanah airmu yang sebenarnya telah sampai.
Kembalilah menjadi bagian dari ku, dengan segala retakanmu,
yang akan kujadikan aliran sungai kecil,
yang akan menghidupi rumput-rumput baru,
yang akan ditapaki oleh kaki-kaki pecah-pecah generasi berikutnya."

Penutup:

Rorombeheun bukanlah keluhan. Ia adalah narasi. Sebuah epik mini yang tertulis di bagian tubuh kita yang paling rendah, paling dekat dengan bumi. Ia mengingatkan kita bahwa keutuhan bukanlah tentang kesempurnaan permukaan, tetapi tentang kedalaman makna yang mampu kita tanggung dan kita bawa. Setiap langkah yang meninggalkan jejak, juga meninggalkan cerita. Dan cerita itu, sekering apapun, patut untuk tidak disesali, tetapi dipahami sebagai bagian dari puisi panjang bernama kehidupan.

~ Untuk semua kaki yang tak sempurna, yang justru sempurna karena telah membawa kita ke mana kita perlu pergi. ~

Postingan terkait:

Belum ada tanggapan untuk "Rorombeheun, Untuk Semua Kaki Yang Telah Melangkah Lebih Jauh Dari Keluhannya."

Posting Komentar

Semua komentar yang masuk saya moderasi, hal ini untuk menghindari spam dan informasi yang tidak berkaitan dengan topik pembahasan.
Silahkan berkomentar dengan bijak.